Panggilan untuk Menulis
Metode paling awal yang digunakan Allah untuk menyampaikan pekabaran kepada manusia adalah melalui komunikasi lisan langsung, seperti suara yang terdengar, atau mimpi, atau malaikat. Baru pada zaman Musa, Kitab Suci mencatat instruksi Ilahi pertama mengenai pengalaman-pengalaman ini, yaitu untuk menulis dalam sebuah "kitab" apa yang telah difirmankan Allah.
Dalam Perjanjian Lama kita menemukan banyak contoh tentang Allah yang memberikan arahan kepada utusan-utusan-Nya untuk melestarikan firman-Nya bagi umat-Nya. Seperti Musa, Yeremia diberi tahu, "Ambillah gulungan kitab dan tuliskanlah di dalamnya segala perkataan yang telah Kufirmankan kepadamu mengenai Israel, mengenai Yehuda dan mengenai segala bangsa, dari saat Aku berbicara kepadamu, yakni dari zaman Yosia, sampai hari ini" ( Yer. 36: 2).
Ia juga diberi alasan mengapa ia harus menuliskan nubuatan itu: "Mungkin apabila kaum Yehuda mendengar tentang segala malapetaka yang Aku rancangkan akan didatangkan kepada mereka, maka mereka masing-masing akan bertobat dari tingkah langkahnya yang jahat itu, sehingga Aku mengampuni kesalahan dan dosa mereka" ( Yer. 36: 3). Prediksi-prediksi itu diberikan untuk memimpin orang-orang kepada keselamatan, bukan demi rasa ingin tahu tentang masa depan.
Utusan-utusan Allah menulis di bawah berbagai situasi. Musa menulis lima kitab pertama Alkitab saat berada di gurun. Daud menggubah beberapa mazmurnya saat diburu oleh Saul (lihat Mzm. 52, 54, 57, 59). Daniel menulis penglihatannya saat melayani di istana Babel dan Media-Persia. Sebaliknya, Paulus menulis surat-suratnya kepada jemaat di Efesus, Filipi, Kolose, dan Filemon saat ia berada di penjara, dan Yohanes menulis Wahyu saat diasingkan di Patmos.
Jelaslah bahwa ketika utusan-utusan Allah tergerak untuk menulis, mereka diberdayakan oleh Roh Kudus terlepas dari keadaan mereka. Menariknya, semua ajaran Yesus yang dilestarikan datang kepada kita dalam bentuk tertulis melalui orang-orang yang dipilih Allah untuk dipercayakan dengan kebenaran-kebenaran yang berharga itu. Ini menunjukkan kepada kita keyakinan yang dimiliki Allah bahwa berbagai pekabaran Ilahi akan dicatat dan dilestarikan dengan setia oleh utusan-utusan-Nya.