Kasih Allah
"Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian" ( 2 Kor. 13: 13). Dengan ayat ini, Paulus mengakhiri surat keduanya. Perhatikan bahwa Ia menyebutkan tiga Pribadi Tritunggal dalam urutan ini—Anak, Bapa, dan Roh Kudus. Melalui pekerjaan ketiganya, kita dapat lebih memahami seperti apa Allah itu dan apa yang telah Ia lakukan bagi kita.
1 Yohanes 4: 8 mengatakan bahwa "Allah adalah kasih." Kasih adalah sifat yang sangat penting dari Allah. Yohanes menekankan bahwa kita dapat mengenal kasih karena Allah telah memberikan Anak-Nya yang tunggal untuk mati bagi kita ( Yoh. 3: 16). Ia mengutus Yesus dalam sebuah misi penyelamatan ( Yoh. 3: 17), dan ini adalah bagian dari rencana keselamatan ( Kis. 3: 20, 21; 1 Yoh. 4: 10, 14). Yesus menyebut Bapa beberapa kali dalam Injil sebagai Pribadi yang mengutus-Nya ( Mat. 10: 40, Mrk. 9: 37).
Dalam sebuah pernyataan yang luar biasa, Paulus berkata, "Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa" ( Rm. 5: 8). Kita dapat melihat sekilas kasih Allah dalam hubungan yang manis antara suami dan istri, serta orang tua dan anak-anak mereka, dalam persahabatan yang tulus, dan sebagainya. Kita juga dapat melihat kasih Allah di alam. Mengenai hal itu, Ellen G. White berkata, "'Allah adalah kasih' tertulis pada setiap kuncup bunga yang mekar, pada seti-ap rumput yang menghijau. Burung-burung yang indah memenuhi udara dengan lagu kicauan mereka yang merdu, bunga-bunga berwarna-warni dalam kesempurnaan mereka mengharumkan udara, pohon-pohon lebat di hutan dengan dedaunan yang rim-bun dan hijau—semua bersaksi tentang kelemah-lembutan pemeliharaan Bapa Sur-gawi dan kerinduan-Nya membahagiakan anak-anaknya"—Langkah kepada Kristus, hlm. 11.
Namun, tidak ada yang lebih meyakinkan daripada Allah yang memberikan Yesus sebagai korban karena dosa-dosa kita. Ketika kita memahami bahwa Allah begitu mengasihi kita sehingga mengutus Yesus untuk menyerahkan nyawa-Nya bagi kita, tanggapan kita adalah kesediaan "menyerahkan nyawa kita bagi saudara-saudara kita" ( 1 Yoh. 3: 16).
Paulus ingin jemaat di Korintus hidup dalam persatuan. Namun, tanpa kasih, tidak ada persatuan. Itulah sebabnya ia mengajar mereka bahwa "kasih itu membangun" ( 1 Kor. 8: 1, ESV) dan bahwa tanpa kasih, segalanya sia-sia dan hampa ( 1 Kor. 13: 1–3). Jadi, semua yang kita lakukan harus dilakukan dalam kasih ( 1 Kor. 16: 14), sebuah kasih yang merupakan perpanjangan dari kasih Allah.