Kasih Karunia Yesus
Sungguh menginspirasi bahwa di akhir surat 2 Korintus, kita melihat referensi mengenai kasih karunia Yesus, sama seperti di bagian pembuka ( 2 Kor. 1: 2, 2 Kor. 13: 14). Paulus memulai dan menutup surat ini dengan merujuk pada kasih karunia-Nya. Seperti yang kita lihat di awal triwulan ini, ia tidak bisa berhenti berpikir dan berbicara tentang Yesus.
"Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya" ( 2 Kor. 8: 9).
Betapa mengagumkan dan tak tertahankannya kasih karunia Yesus. Ia meninggalkan kekayaan keberadaan-Nya yang kekal di surga untuk menjadi miskin. Ia berjalan di jalanan berdebu Galilea dulu. "Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib" ( Flp. 2: 8). Ia melakukannya agar kita dapat menjadi "kaya", yaitu, agar kita memiliki kesempatan untuk bersama-Nya di surga. Sulit bagi kita, yang hanya mengenal dunia yang penuh dosa, kematian, dan penderitaan, untuk bahkan mulai memahami apa artinya bagi Yesus meninggalkan istana surga untuk datang ke sini dan mempersembahkan hidup-Nya bagi kita.
Paulus sangat sering merujuk pada kasih karunia Yesus dalam surat-suratnya. Beberapa "mutiara" di antaranya adalah, "kasih karunia Allah dan karunia-Nya yang dilimpahkan-Nya atas semua orang karena satu orang, yaitu Yesus Kristus" ( Rm. 5: 15). Mereka yang menerima kelimpahan kasih karunia ini akan "hidup dan berkuasa oleh … Yesus Kristus" ( Rm. 5: 17). Sebagaimana halnya dengan 2 Korintus, Paulus juga memulai dan menutup surat-surat lainnya dengan menyebutkan kasih karunia Yesus ( Rm. 1: 7, Rm. 16: 20, 1 Kor. 1: 3, 1 Kor. 16: 23, Gal. 1: 3, Gal. 6: 18, Flp. 1: 2, Flp. 4: 23). Topik ini memenuhi pikirannya, dan ia ingin agar pikiran jemaat di Korintus juga dipenuhi olehnya.
Inilah harapannya bagi semua jemaat. Perhatikan apa yang ia katakan kepada jemaat di Efesus: "Kasih karunia menyertai semua orang, yang mengasihi Tuhan kita Yesus Kristus dengan kasih yang tidak binasa" ( Ef. 6: 24). Apakah ia berharap kita mengasihi Yesus dengan kadar yang lebih rendah dari kasih yang tidak binasa? Tentu tidak. Bagaimanapun, harapannya adalah agar kasih karunia Yesus menjangkau "semakin banyak orang" ( 2 Kor. 4: 15) dan menjadi cukup bagi mereka sama seperti bagi dirinya ( 2 Kor. 12: 9).