Konektivitas Antargereja
Dalam dunia sekarang yang terhubung oleh internet, media sosial, dan perangkat yang tak terhitung jumlahnya, sulit membayangkan tantangan yang dihadapi Paulus dalam membantu gereja-gereja merasakan bahwa mereka adalah bagian dari sesuatu yang lebih besar daripada jemaat lokal mereka sendiri.
Dengan kata-kata salam ini, Paulus menciptakan dan membangun keterhubungan di antara sesama orang percaya. Kita pelajari di sini bahwa Markus adalah sepupu Barnabas. Dengan demikian, Paulus membuka jalan bagi kemungkinan kunjungan Markus ke Kolose. Aristarkhus secara harfiah digambarkan sebagai "temanku sepenjara"; artinya, ia dipenjara bersama Paulus. Mereka berdua adalah prajurit dengan “perlengkapan senjata Allah” ( Ef. 6: 10, 11), berjuang untuk membebaskan tawanan Iblis agar dapat melayani dalam kerajaan Allah (lihat 2 Tim. 2: 1-4). Yesus/Yustus (nama Yahudi dan Romawi yang terdengar sangat mirip dalam bahasa Yunani, seperti Saul/Paulus) juga dipuji sebagai rekan sekerja yang dapat dipercaya dalam Injil.
Paulus secara khusus menyebut bahwa Aristarkhus, Markus, dan Yustus adalah orang percaya Yahudi ("dari golongan bersunat"). Setelah itu, ia menyebut tiga orang non-Yahudi: Epafras, Lukas, dan Demas ( Kol. 4: 12-14). Hal ini penting karena, meskipun ada ketegangan di gereja antara orang Yahudi dan non-Yahudi, para rekan sekerja ini mampu bekerja sama secara efektif, dengan kesatuan dan keharmonisan. Namun, dengan menggunakan kata “hanya," Paulus tampaknya mengisyaratkan kekecewaan tertentu karena lebih sedikit orang Kristen Yahudi yang tetap mendukungnya dalam penderitaannya. Meskipun demikian, yang juga penting adalah bahwa pada saat itu, Yohanes Markus yang beberapa tahun sebelumnya telah meninggalkan Paulus dan Barnabas dalam perjalanan misi pertama mereka ( Kis. 13: 13), tidak hanya menunjukkan kesetiaan, tetapi juga menjadi "penghibur" bagi Paulus ( Kis. 15: 36-40).
Ancaman terhadap kesatuan bukanlah hal yang baru. Dalam beberapa tahun terakhir, Gereja Advent telah mengalami perubahan besar seiring dengan penyebarannya secara global, dan berbagai kekuatan telah menggerus kesatuannya. Tekanan terhadap kesatuan ini dirasakan di setiap tingkatan gereja.