Diubah oleh Kontemplasi
Marco Iacoboni, seorang ahli saraf di University of California, Los Angeles, meneliti fungsi neuron cermin. Sirkuit sel kecil ini diaktifkan ketika kita melakukan tindakan tertentu―seperti tertawa atau memeluk seseorang dan ketika kita mengamati orang lain melakukan tindakan yang sama. Aktivitas neuron-neuron ini mengurangi perbedaan antara melihat dan melakukan.
Ellen G. White berbicara tentang pentingnya memandang karakter Yesus: “Sambil memandang kepada Yesus, kita memperoleh pandangan tentang Allah yang makin terang dan jelas dan oleh memandang kita berubah. Kebaikan, kasih bagi sesama manusia, menjadi naluri alami kita. Kita mengembangkan satu tabiat yang sama dengan tabiat Ilahi. Bertumbuh menyerupai Dia, kita meluaskan kesanggupan kita untuk mengenal Allah. Makin hari semakin dekat kita masuk ke dalam persekutuan dengan dunia surgawi dan kita terus-menerus mempunyai kuasa yang semakin bertambah untuk menerima kelimpahan dari pengetahuan dan hikmat yang abadi"-Ellen G. White, Pelajaran dari Perumpamaan Kristus, hlm. 294.
Dalam ringkasan suratnya kepada jemaat di Roma, Rasul Paulus berbicara tentang dua kekuatan yang saling berlawanan yang berusaha membentuk hidup kita. Di satu sisi, dunia sekitar, dengan berbagai pengaruhnya, mencoba memaksa kita setiap hari untuk masuk ke dalam bentukannya, memengaruhi konfirmasi dalam diri kita yang bekerja dari luar ke dalam.
Untuk mengatasi dampak ini, Roh Kudus dapat mengubah kita dari dalam ke luar dengan cara yang mirip dengan cara ulat bermetamorfosis menjadi kupu-kupu yang indah. Namun agar proses itu terjadi, kita perlu menyerahkan diri kita kepada Tuhan dan meminta Dia untuk melanjutkan pekerjaan baik yang telah Dia mulai di dalam diri kita ( Flp. 1: 6). Pada akhirnya, kita harus membuat pilihan secara sadar, saat demi saat, untuk berjalan di dalam Roh.