Ditulis di Atas Batu
Gunung Ebal hanya disebutkan dalam Ulangan ( Ul. 11: 29; Ul. 27: 4, 13) dan dalam kitab Yosua ( Yos. 8: 30, 33). Bersama dengan Gerizim, tempat ini adalah tempat di mana berkat dan kutuk perjanjian harus dibacakan. Lebih khusus lagi, menurut Ulangan 11: 29 dan Ulangan 27: 4, 13, tempat ini harus menjadi tempat pembacaan kutuk. Di sini orang Israel harus berdiri di kedua sisi tabut di hadapan para imam ( Yos. 8: 33). Satu kelompok berdiri di depan Gunung Ebal, kelompok lainnya di depan Gunung Gerizim. Di sini mereka secara simbolis memberlakukan dua cara yang mungkin untuk berhubungan dengan perjanjian. Korban-korban yang dibawa ke sana menunjuk kepada Yesus, yang telah menanggung segala kutuk perjanjian, sehingga semua orang yang percaya kepada-Nya dapat menikmati berkat-berkatnya ( Gal. 3: 13, 2 Kor. 5: 21).
Sebagai manusia kita cenderung pelupa. Kita memadatkan tuntutan kehidupan sehari-hari yang semakin membingungkan ke dalam segmen waktu yang semakin pendek. Kita pasti melupakan hal-hal yang tidak terulang dengan frekuensi atau intensitas yang sama. Pada setiap kebaktian perjamuan kudus, kita memiliki sebuah kesempatan khusus untuk mempersembahkan kembali diri kita kepada Tuhan dan memperbarui komitmen perjanjian kita. Adalah baik untuk melihat kesempatan-kesempatan ini tidak hanya sebagai kesempatan untuk pembaktian ulang secara individu, tetapi juga sebagai kesempatan untuk memperbarui kesetiaan kita kepada Allah. Di dalam masyarakat yang semakin individualistis, kita harus menemukan kembali kekuatan untuk menjadi bagian dari sebuah komunitas yang memiliki pandangan dunia yang sama, nilai-nilai dan misi dan kepercayaan yang sama, yang sama.