Siapa yang Mengeraskan Hati Firaun?
Sembilan kali dalam kitab Keluaran, pengerasan hati Firaun dianggap berasal dari Allah ( Kel. 4: 21; Kel. 7: 3; Kel. 9: 12; Kel. 10: 1, 20, 27; Kel. 11: 10; Kel. 14: 4, 8; lihat juga Rm. 9: 17, 18). Sembilan kali Firaun dikatakan telah mengeraskan hatinya sendiri ( Kel. 7: 13, 14, 22; Kel. 8: 15, 19, 32; Kel. 9: 7, 34, 35).
Siapakah yang mengeraskan hati sang raja-Tuhan, atau Firaun sendiri? Sangatlah penting bahwa dalam kisah Keluaran tentang sepuluh tulah, masing-masing dari lima tulah pertama, Firaun sendirilah yang mengeraskan hatinya. Dengan demikian, ia yang memulai pengerasan hatinya sendiri. Namun, sejak tulah keenam, teks Alkitab menyatakan bahwa Tuhanlah yang mengeraskan hati Firaun ( Kel. 9: 12). Maksud dari semua ini adalah bahwa Allah memperkuat atau memperdalam pilihan Firaun sendiri, tindakan yang disengaja, seperti yang telah Allah katakan kepada Musa yang akan Dia lakukan ( Kel. 4: 21). Dengan kata lain, Allah mengirimkan tulah untuk membantu Firaun bertobat dan membebaskannya dari kegelapan dan kesesatan pikirannya. Allah tidak menciptakan kejahatan baru di dalam hati Firaun; sebaliknya, Dia hanya menyerahkan Firaun kepada dorongan-dorongan jahatnya sendiri. Ia membiarkan Firaun tanpa kasih karunia Allah yang menahannya dan dengan demikian membiarkannya jatuh ke dalam kejahatannya sendiri (lihat Rm. 1: 24–32).
Firaun memiliki kehendak bebasnya ia dapat memilih untuk atau melawan Allah dan ia memutuskan untuk melawan.
Pelajarannya sangat jelas. Kita telah diberi kemampuan untuk memilih antara yang benar dan yang salah, yang baik dan yang jahat, ketaatan atau ketidaktaatan. Dari Lusifer di surga, Adam dan Hawa di Eden, Firaun di Mesir, dan kita hari ini dimanapun kita tinggal, kita memilih hidup atau mati ( Ul. 30: 19).
Contohnya: bayangkan sinar matahari yang menyinari mentega dan tanah liat. Mentega akan meleleh, tetapi tanah liat akan mengeras. Panas matahari sama dalam kedua kasus tersebut, tetapi ada dua reaksi yang berbeda terhadap panas, dan dua hasil yang berbeda. Efeknya tergantung pada bahannya. Dalam kasus Firaun, bisa dikatakan bahwa hal itu tergantung pada sikap hatinya terhadap Allah dan umat-Nya.