Empat Alasan
Musa kembali mencoba untuk menghindar dari tugas yang Allah minta darinya (lihat Keluaran 3: 11). Dia tidak ingin pergi ke Mesir dan berhadapan dengan Firaun. Lagi pula, dia telah gagal ketika dia sebelumnya mencoba, sendirian, untuk menolong orang Ibrani. Selain itu, bangsanya sendiri tidak percaya dan tidak menerima dia sebagai pemimpin mereka. Itulah sebabnya ia merumuskan keberatan ketiga: "Bagaimana jika mereka tidak percaya kepadaku dan tidak mendengarkan perkataanku" ( Kel. 4: 1)? Ini bukanlah sebuah pertanyaan untuk mempelajari sesuatu yang baru; ini adalah sebuah upaya untuk mengatakan “Tidak" pada tanggung jawab yang Allah minta untuk dilakukannya.
Dua tanda ajaib diberikan kepada Musa untuk ditampilkan di hadapan para tua-tua Israel dan, kemudian, di hadapan Firaun: (1) tongkatnya berubah menjadi ular dan kemudian kembali menjadi tongkat, dan (2) tangannya menjadi sakit kusta tetapi kemudian sembuh seketika. Kedua mukjizat ini seharusnya meyakinkan para penatua bahwa Allah sedang bekerja bagi mereka. Tetapi jika tidak, mukjizat ketiga, yaitu mengubah air menjadi darah, ditambahkan ( Kel. 4: 8, 9).
Meskipun Allah memberikan mukjizat-mukjizat yang luar biasa kepada Musa, ia masih mengungkapkan alasan lain, yaitu alasan keempat: ia bukan seorang pembicara yang baik.
Empat alasan ini menunjukkan keengganan Musa untuk mengikuti panggilan Tuhan. Dengan alasan yang “masuk akal”, ia menutupi keengganannya untuk pergi. Tiga alasan pertama berupa pertanyaan: (1) Siapakah aku? (2) Siapakah Engkau? dan (3) Bagaimana jika mereka tidak memercayaiku? Dan (4) keberatan keempat adalah pernyataan: "Aku tidak fasih berbicara." Tuhan bereaksi terhadap semua keberatan itu dan memberikan solusi yang ampuh. Terhadap semua alasan ini, Allah memberikan banyak janji yang menggembirakan.
Kemudian Musa menyampaikan permohonan kelima dan terakhirnya dan langsung meminta: "Ah, Tuhan, utuslah kiranya siapa saja yang patut Kauutus" ( Kel. 4: 13). Sebagai jawabannya, Tuhan memberitahukan kepadanya bahwa Dia telah mengutus saudaranya, Harun, untuk menemuinya sebagai dukungan. Akhirnya, Musa diam-diam mengalah dan meminta restu kepada Yitro sebelum berangkat ke Mesir.
Bacaan Tambahan: Kutipan Terpilih dari Ellen G. White
Musa memohon kepada Tuhan dan berkata, “Tetapi, sesungguhnya, mereka tidak akan percaya kepadaku, dan tidak akan mendengarkan perkataanku; sebab mereka akan berkata: TUHAN tidak menampakkan diri kepadamu.” Maka Tuhan memberikan jaminan kepadanya melalui mukjizat tongkat yang berubah menjadi ular, dan tangan yang menjadi kusta, bahwa melalui tanda-tanda dan pekerjaan ajaib seperti itulah Ia akan membuat orang Mesir dan Firaun menjadi takut, sehingga mereka tidak berani mencelakainya. Melalui tanda-tanda ini Tuhan meyakinkan Musa bahwa Ia akan membuat raja dan rakyat percaya bahwa ada Pribadi yang lebih besar daripada Musa sendiri yang sedang menyatakan kuasa-Nya di hadapan mereka. Namun, walaupun banyak mukjizat akan dilakukan di hadapan Firaun dan disaksikan oleh rakyat, mereka tetap tidak akan membiarkan orang Israel pergi. Musa ingin dibebaskan dari tugas yang berat ini. Ia mengemukakan kelemahan dalam berbicara sebagai alasan. Maksudnya, karena sudah lama tidak bergaul dengan orang Mesir, ia merasa tidak lagi menguasai bahasa mereka sebaik saat ia masih tinggal di tengah-tengah mereka. Tuhan menegur Musa atas rasa takutnya, seolah-olah Allah yang telah memilihnya untuk melaksanakan pekerjaan besar itu tidak mampu mempersiapkannya, atau seolah-olah Allah telah keliru dalam memilih orang. “Lalu berfirmanlah TUHAN kepadanya: Siapakah yang membuat mulut manusia? Siapakah yang menjadikan orang bisu atau tuli, melihat atau buta? Bukankah Aku, TUHAN?” Sungguh satu seruan yang luar biasa! Betapa tajam teguran itu terhadap ketidakpercayaan! “Karena itu, pergilah, Aku akan menyertai lidahmu dan mengajarkan kepadamu apa yang harus kaukatakan.” Namun Musa berkata, “Ah, Tuhan, utuslah kiranya siapa saja yang patut Kauutus.” Ia memohon agar Tuhan memilih orang lain yang dianggapnya lebih layak. Keraguan Musa pada awalnya muncul karena kerendahan hati dan rasa sungkan yang wajar. Namun setelah Allah berjanji akan mengatasi segala kesulitannya, menyertai lidahnya, mengajarinya apa yang harus dikatakan, dan memberi keberhasilan pada misinya, maka terus menunjukkan keraguan setelah semua janji itu adalah sikap yang tidak menyenangkan hati Tuhan. Penolakannya untuk melaksanakan misi yang telah Tuhan pelihara nyawanya demi menggenapinya, dan yang telah Tuhan persiapkan dia untuk mengerjakannya, bahkan setelah menerima jaminan penyertaan ilahi, menunjukkan ketidakpercayaan dan keputusasaan yang bersifat dosa, serta ketidakpercayaan kepada Allah sendiri. Tuhan menegur Musa karena ketidakpercayaannya itu. Pembebasan Israel dari Mesir, dengan cara yang direncanakan Allah, tampak tidak masuk akal bagi Musa—seakan misi itu mustahil untuk berhasil. — Spiritual Gifts, jilid 3, hlm. 192–193
Catatan: Kutipan di atas diambil dari Komentar Ellen G. White untuk Pelajaran Sekolah Sabat, diterbitkan oleh Pacific Press Publishing Association. Digunakan dengan izin.