Tuhan adalah Gembalaku. Mazmur 23:1

Search Now!
Contact Info
Phone
Location Sukur, Airmadidi, Minahasa Utara, Sulawesi Utara
Follow Us
Contact Info
Phone
Location Sukur, Airmadidi, Minahasa Utara, Sulawesi Utara
Follow Us
2025-03 Pelajaran 2 05 Jul 2025 - 11 Jul 2025

Semak yang Terbakar

Ayat Hafalan

"**:** "Dan TUHAN berfirman: 'Aku telah memperhatikan dengan sungguh-sungguh kesengsaraan umat-Ku di tanah Mesir, dan Aku telah mendengar seruan mereka yang disebabkan oleh pengerah-pengerah mereka, ya, Aku mengetahui penderitaan mereka. Sebab itu Aku telah turun untuk melepaskan mereka dari tangan orang Mesir dan menuntun mereka keluar dari negeri itu ke suatu negeri yang baik dan luas, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya"" (Keluaran 3: 7, 8)."

Bacaan Pekan Ini: Kel. 18: 3, 4; Kel. 3: 1–22; Kej. 22: 11, 15–18; Kel. 6: 3; Yl. 2: 32; Kel. 4: 1–31; Kej. 17: 10, 11.

Sabat (Hari #1) 05 July 2025

Semak yang Terbakar

Untuk Pelajaran Pekan Ini Bacalah

Kel. 18: 3, 4; Kel. 3: 1–22; Kej. 22: 11, 15–18; Kel. 6: 3; Yl. 2: 32; Kel. 4: 1–31; Kej. 17: 10, 11.

Ayat Hafalan:

"Dan TUHAN berfirman: 'Aku telah memperhatikan dengan sungguh-sungguh kesengsaraan umat-Ku di tanah Mesir, dan Aku telah mendengar seruan mereka yang disebabkan oleh pengerah-pengerah mereka, ya, Aku mengetahui penderitaan mereka. Sebab itu Aku telah turun untuk melepaskan mereka dari tangan orang Mesir dan menuntun mereka keluar dari negeri itu ke suatu negeri yang baik dan luas, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya"" ( Keluaran 3: 7, 8).

Panggilan Tuhan kepada kita sering kali akan mengubah arah hidup kita. Namun, jika kita mengikuti panggilan tersebut, maka kita akan menemukan bahwa jalan Tuhan selalu merupakan jalan yang terbaik bagi kita. Namun, terkadang pada awalnya tidak mudah untuk menerima panggilan Tuhan. Demikian juga halnya dengan Musa dan panggilannya oleh Tuhan, yang secara khusus dimulai dari perjumpaannya dengan Tuhan di semak yang terbakar. Meskipun Musa mungkin tahu atau tidak tahu tentang hukum-hukum pembakaran, ia tahu bahwa apa yang dilihatnya adalah sebuah mukjizat, dan hal itu tentu saja menarik perhatiannya. Tidak diragukan lagi, Tuhan memanggilnya untuk suatu tugas tertentu. Masalahnya adalah: Apakah dia akan menjawab panggilan tersebut, terlepas dari perubahan radikal yang akan terjadi dalam hidupnya karena panggilan ini? Pada awalnya, ia tidak begitu menerima panggilan itu.

Anda mungkin ingat saat-saat ketika Anda memiliki tujuan tertentu, tetapi Tuhan mengalihkan rencana tersebut. Memang benar bahwa kita dapat berguna bagi Tuhan dalam banyak cara, tetapi mengikuti panggilan Tuhan dalam hidup kita, dan melakukan apa yang Dia tunjukkan kepada kita, adalah jalan menuju kehidupan yang paling memuaskan. Mungkin tidak selalu mudah, dan tidak mudah bagi Musa, tetapi alangkah bodohnya jika kita mengikuti jalan kita sendiri ketika Tuhan memanggil kita ke arah yang lain.

*Pelajarilah Pelajaran Pekan ini untuk persiapan Sabat, 12 Juli.

Bacaan Tambahan: Kutipan Terpilih dari Ellen G. White

Perintah ilahi untuk membebaskan Israel mendapati Musa sebagai seorang yang tidak percaya diri, lamban berbicara, dan penakut. Ia merasa sangat tidak layak untuk menjadi penyambung lidah Allah. Namun ia menerima tugas itu, dan menyerahkan seluruh kepercayaannya kepada Tuhan. Kebesaran misi yang dipercayakan kepadanya menuntut pengembangan potensi terbaik dalam dirinya. Allah memberkati ketaatannya yang siap sedia, dan Musa menjadi fasih dalam berbicara, penuh harapan, percaya diri, dan sangat terlatih untuk pekerjaan terbesar yang pernah diberikan kepada manusia. Inilah contoh tentang apa yang dapat Allah lakukan untuk memperkuat karakter mereka yang percaya sepenuhnya kepada-Nya dan menyerahkan diri tanpa syarat kepada perintah-perintah-Nya. — Gospel Workers, hlm. 359

Renungkanlah pengalaman Musa. Pendidikan yang ia terima di Mesir sebagai cucu raja dan calon ahli waris takhta sangatlah lengkap. Tidak ada satu pun yang diabaikan yang dapat menjadikannya orang bijaksana menurut pemahaman orang Mesir. Ia menerima pelatihan sipil dan militer tingkat tertinggi. Ia merasa sepenuhnya siap untuk melaksanakan tugas membebaskan Israel dari perbudakan. Tetapi Allah menilai lain. Dalam penyelenggaraan-Nya, Allah menetapkan Musa untuk menjalani pelatihan selama empat puluh tahun di padang gurun sebagai gembala domba. Pendidikan yang Musa peroleh di Mesir membantu dirinya dalam banyak hal; tetapi persiapan paling berharga bagi tugas hidupnya adalah yang ia terima saat menggembalakan domba. Musa pada dasarnya adalah pribadi yang impulsif. Di Mesir, ia adalah pemimpin militer yang sukses dan disukai oleh raja serta bangsa, terbiasa menerima pujian dan sanjungan. Ia telah menarik perhatian rakyat kepada dirinya sendiri. Ia berharap dapat melaksanakan pembebasan Israel dengan kekuatannya sendiri. Namun sangat berbeda pelajaran yang harus ia pelajari sebagai wakil Allah. Ketika ia menggiring kawanan dombanya melewati daerah pegunungan yang sunyi dan ke padang rumput hijau di lembah-lembah, ia belajar tentang iman dan kelembutan hati, kesabaran, kerendahan hati, dan keikhlasan diri. Ia belajar untuk merawat yang lemah, menyembuhkan yang sakit, mencari yang tersesat, bersabar dengan yang memberontak, menjaga anak domba, dan merawat yang tua dan lemah. Dalam pekerjaan ini Musa ditarik semakin dekat kepada Gembala Agung. Ia menjadi erat bersatu dengan Yang Mahakudus dari Israel. Ia tidak lagi merancang pekerjaan besar dengan kekuatannya sendiri. Ia hanya berusaha melakukan dengan setia, seperti untuk Tuhan, tugas yang dipercayakan kepadanya. Ia menyadari kehadiran Allah di sekelilingnya. Seluruh alam berbicara kepadanya tentang Dia yang tidak kelihatan. Ia mengenal Allah sebagai Pribadi yang nyata, dan dalam perenungannya akan karakter Allah, ia semakin memahami kehadiran-Nya. Ia menemukan perlindungan dalam lengan kekal yang menopangnya. — The Ministry of Healing, hlm. 474–475

Catatan: Kutipan di atas diambil dari Komentar Ellen G. White untuk Pelajaran Sekolah Sabat, diterbitkan oleh Pacific Press Publishing Association. Digunakan dengan izin.