Nama Tuhan
Allah memperkenalkan diri-Nya kepada Musa sebagai “ ehejeh ‘asher’ ehejeh,” yang secara harfiah berarti "Aku akan menjadi siapa Aku akan menjadi," atau "Aku adalah Aku." Dalam Keluaran 3: 12, Tuhan menggunakan kata kerja ‘ehejeh’ yang sama dengan ayat 14, ketika Dia menyatakan kepada Musa "Aku akan menjadi" (bersamamu). Ini berarti bahwa Allah itu kekal. Dia adalah Allah yang transenden, sekaligus Allah yang imanen, dan Dia tinggal bersama mereka "yang menyesal dan rendah hati dalam roh" ( Yesaya 57: 15).
Nama Allah "Yahwe" (diterjemahkan dalam Alkitab bahasa Inggris biasanya sebagai "the LORD") telah dikenal oleh umat Allah sejak awal, meskipun mereka tidak mengetahui maknanya yang lebih dalam. Musa juga mengenal nama Yahwe, tetapi, seperti orang lain, ia tidak mengetahui makna yang sebenarnya. Pertanyaannya, "Siapakah nama-Mu?" adalah sebuah pertanyaan tentang makna yang lebih dalam.
Petunjuk yang sangat membantu adalah dalam Keluaran 6: 3, di mana Tuhan menyatakan: "Aku telah menampakkan diri kepada Abraham, Ishak dan Yakub sebagai Allah Yang Mahakuasa, tetapi dengan nama-Ku, TUHAN, Aku tidak menyatakan diri-Ku sepenuhnya kepada mereka" ( Kel. 6: 2). Ini tidak berarti bahwa Adam, Nuh, Abraham, dan para bapa leluhur tidak mengenal nama "Yahwe" (lihat Kej. 2: 4, 9; Kej. 4: 1, 26; Kej. 7: 5; Kej. 15: 6-8; dll.). Sebaliknya, ini berarti bahwa mereka tidak mengetahui maknanya yang lebih dalam.
Nama-Nya, Yahweh, menunjuk pada fakta bahwa Dia adalah Allah pribadi, Allah umat-Nya, Allah perjanjian. Dia adalah Allah yang dekat dan intim yang campur tangan dalam urusan manusia. Allah yang Mahakuasa ( Kej. 17: 1) adalah Allah yang secara ajaib campur tangan dengan kuasa-Nya. Tetapi Yahwe adalah Allah yang menunjukkan kuasa moral-Nya dengan kasih dan perhatian. Dia adalah Allah yang sama dengan Elohim ("Allah yang perkasa, kuat, transenden," "Allah semua orang,” “Penguasa Alam Semesta," "Pencipta segala sesuatu"), tetapi aspek-aspek yang berbeda dalam hubungan-Nya dengan umat manusia diungkapkan oleh nama Yahwe itu sendiri.
Mengenal nama atau memanggil nama Tuhan bukanlah sesuatu yang ajaib. Ini adalah tentang proklamasi nama-Nya, yang berarti mengajarkan kepada orang lain kebenaran tentang Tuhan dan keselamatan yang Dia tawarkan kepada semua orang yang datang dengan iman. Seperti yang dikatakan Yoel: "Setiap orang yang berseru kepada nama TUHAN akan diselamatkan” (Y. 2: 32).
Bacaan Tambahan: Kutipan Terpilih dari Ellen G. White
Waktu yang telah ditentukan sepenuhnya telah tiba ketika Allah menghendaki Musa menukarkan tongkat gembalanya dengan tongkat Allah, yang akan dijadikan-Nya alat yang berkuasa untuk mengerjakan tanda-tanda dan mujizat-mujizat, dalam membebaskan umat-Nya dari penindasan, dan dalam memelihara mereka ketika dikejar oleh musuh-musuh mereka. “Lalu Musa berkata kepada Allah: ‘Siapakah aku ini, sehingga aku yang akan menghadap Firaun dan membawa orang Israel keluar dari Mesir?’ Lalu firman-Nya: ‘Bukankah Aku akan menyertai engkau? Inilah tanda bagimu, bahwa Aku mengutus engkau: apabila engkau telah membawa bangsa itu keluar dari Mesir, maka kamu akan beribadah kepada Allah di gunung ini.’ Lalu Musa berkata kepada Allah: ‘Tetapi apabila aku mendapatkan orang Israel dan berkata kepada mereka: Tuhan, Allah nenek moyangmu, telah mengutus aku kepadamu, dan mereka bertanya kepadaku: Siapakah nama-Nya?—apakah yang harus kujawab kepada mereka?’ Firman Allah kepada Musa: ‘AKU ADALAH AKU.’ Lagi firman-Nya: ‘Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKU TELAH MENGUTUS AKU KEPADAMU.’ Selanjutnya berfirmanlah Allah kepada Musa: ‘Beginilah kaukatakan kepada orang Israel: TUHAN, Allah nenek moyangmu, Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub, telah mengutus aku kepadamu. Itulah nama-Ku untuk selama-lamanya, dan itulah sebutan-Ku turun-temurun.’” — Spiritual Gifts, jld. 3, hlm. 188
Dalam penciptaan manusia dinyatakan campur tangan langsung dari Allah pribadi. Ketika Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya, bentuk tubuh manusia itu sempurna dalam segala susunannya, tetapi belum memiliki kehidupan. Lalu Allah pribadi, yang hidup dengan sendirinya, menghembuskan ke dalam bentuk itu nafas kehidupan, dan manusia menjadi makhluk hidup yang cerdas. Semua bagian dari tubuh manusia mulai berfungsi: jantung, arteri, pembuluh darah, lidah, tangan, kaki, pancaindera, serta kemampuan-kemampuan pikiran—semuanya mulai bekerja dan semuanya ditempatkan di bawah hukum. Manusia menjadi makhluk yang hidup. Melalui Kristus, Firman itu, Allah pribadi menciptakan manusia dan menganugerahinya dengan kecerdasan dan kuasa. Keberadaan kita tidak tersembunyi dari-Nya ketika kita dibentuk di tempat yang tersembunyi; mata-Nya telah melihat wujud kita yang belum sempurna, dan dalam kitab-Nya tertulis semua anggota tubuh kita, ketika belum ada satu pun dari mereka. — The Ministry of Healing, hlm. 415
Seandainya Allah menghendaki diri-Nya diwakili sebagai berdiam secara pribadi dalam benda-benda alam—di dalam bunga, pohon, atau helai rumput—bukankah Kristus akan menyatakan hal ini kepada murid-murid-Nya sewaktu Ia berada di dunia? Namun tidak pernah dalam ajaran Kristus Allah digambarkan seperti itu. Kristus dan para rasul mengajarkan dengan jelas kebenaran tentang keberadaan Allah sebagai Pribadi yang nyata. Kristus menyatakan segala sesuatu tentang Allah yang masih dapat ditanggung oleh manusia berdosa tanpa dibinasakan. Ia adalah Guru Ilahi, Sang Penerang. Seandainya Allah menganggap kita membutuhkan penyataan lain di luar yang telah diberikan melalui Kristus dan dalam Firman-Nya yang tertulis, tentu Ia akan menyatakannya. — Testimonies for the Church, jld. 8, hlm. 265–266
Catatan: Kutipan di atas diambil dari Komentar Ellen G. White untuk Pelajaran Sekolah Sabat, diterbitkan oleh Pacific Press Publishing Association. Digunakan dengan izin.