Dua Kerub
Segera setelah orangtua pertama kita diusir dari Taman, Tuhan menawarkan harapan akan Mesias ( Kej. 3: 15). Kemudian Dia membuat simbol yang kuat di gerbang Eden: dua kerub dengan kilatan cahaya yang cemerlang di antara mereka. Kita tidak boleh lupa bahwa pemandangan ini sangat mirip dengan tabut perjanjian, simbol takhta Allah ( Kel. 25: 18).
Sementara kerub tentu saja diberi tanggung jawab untuk mencegah orang berdosa mengakses pohon kehidupan ( Kej. 3: 22), mereka juga merupakan simbol harapan, janji, bahwa suatu hari nanti manusia akan dikembalikan ke Firdaus. "Taman Eden tetap berada di atas bumi ini lama setelah manusia terbuang dari jalan-jalannya yang penuh kesukaan itu. Umat yang berdosa itu lama diizinkan untuk dapat memandang kepada rumah mereka sebelum berdosa, pintu gerbangnya terhalang hanya oleh malaikat-malaikat. Di pintu Firdaus yang dikawal oleh malaikat-malaikat, kemuliaan Ilahi dinyatakan. Ke tempat inilah Adam dan anak-anaknya datang untuk menyembah Tuhan. Di sini mereka memperbarui janji-janji mereka untuk taat kepada hukum terhadap mana pelanggaran mereka telah menyebabkan terbuangnya mereka dari Eden…Tetapi pada pemulihan yang terakhir, bilamana akan ada 'langit yang baru dan bumi yang baru' ( Wahyu 21: 1), maka taman itu akan dikembalikan lagi dalam keadaan yang lebih mulia daripada awal mulanya"--Ellen G. White, Alfa dan Omega, jld. 1, hlm. 60.
Kata-kata dalam Kejadian 3: 24 juga menarik: Alkitab menunjukkan bahwa Tuhan "menempatkan" kerub di sebelah timur Eden, dan kata Ibrani asli yang digunakan adalah shakan, akar kata untuk "kemah suci"yang sakral (lihat Kel. 25: 9; Bil. 3: 26), di mana kehadiran Tuhan berdiam di antara umat-Nya. Meskipun istilah umum Shekinah, untuk kehadiran Tuhan, tidak muncul dalam Alkitab, itu juga didasarkan pada kata ini yang sering diterjemahkan "kemah suci." Terjemahan literal dari shakan bisa menjadi, "Tuhan mengemahkan kerubim di sebelah timur Taman Eden."
Dalam Alkitab, kerub dikaitkan dengan kehadiran Tuhan (lihat 1 Taw. 13: 6; Mzm. 80: 2, dan Yes. 37: 16), khususnya dengan takhta-Nya, yang merupakan tempat di mana nama-Nya diproklamasikan. Kita tidak boleh lalai untuk memperhatikan bahwa 24 tua-tua yang menghadiri takhta Allah dalam Wahyu 4 dan 5 memuji-Nya dan menyatakan hak-Nya untuk memerintah sebagai Dia yang menciptakan segala sesuatu ( Why. 4: 11). Ini dapat membantu kita memahami pemandangan ruang takhta dan peran kita sebagai pendosa yang diampuni dalam hubungan dengan Pencipta kita.