Hakim atas Seluruh Bumi
Tepat sebelum kehancuran Sodom, ada cerita mengherankan yang terjadi di dataran Mamre. Tuhan menampakkan diri kepada Abraham, ditemani oleh dua malaikat. Ketika Abraham melihat mereka, dia mengundang para pengunjung surgawi itu untuk makan, dan pada titik inilah Tuhan berjanji bahwa Abraham dan Sara akan memiliki seorang putra yang akan menuntun kepada Mesias. Yesus, memang, datang dari garis keturunan Abraham (bandingkan dengan Gal. 3: 16). Kemudian cerita itu tiba-tiba berubah menjadi masalah kota-kota yang jahat di dataran itu.
Tuhan tidak berutang penjelasan kepada kita, tetapi Dia memilih untuk tidak menutupi motif dan rencana-Nya dari umat manusia. "Sungguh, Tuhan ALLAH tidak berbuat sesuatu," Nabi Amos katakan kepada kita, "tanpa menyatakan keputusan-Nya kepada hamba-hamba-Nya, para nabi" ( Am. 3: 7).
Sebelum Tuhan menghancurkan Sodom dan Gomora, Dia menyatakan bahwa satu-satunya hal yang benar untuk dilakukan adalah memberi tahu Abraham tentang apa yang akan terjadi, tentang apa yang akan segera dia saksikan.
Tuhan tetap tinggal bersama Abraham sementara kedua malaikat pergi ke kota yang jahat untuk memanggil keluar orang-orang yang mau mengindahkan peringatan mereka. Orang tidak bisa menolong tetapi pikirkan tentang malaikat nubuatan yang melakukan tugas yang sama di akhir zaman, memanggil umat Tuhan yang tinggal di Babel untuk keluar darinya ( Why. 14: 6- 12; Why. 18:1- 4). Saat peringatan terakhir dikeluarkan, Tuhan membahas dengan Abraham apa yang akan terjadi, dan Dia dengan sepenuh hati menjawab pertanyaan Abraham.
"Jauhlah kiranya dari pada-Mu untuk berbuat demikian, membunuh orang benar bersama-sama dengan orang fasik," Abraham bertanya, "Masakan Hakim segenap bumi tidak menghukum dengan adil?" ( Kej. 18: 25). Abraham tidak hanya meneliti kasus Sodom, tetapi dia juga meneliti karakter Tuhan. Demikian juga, sebelum akhir dunia tiba, Tuhan membuka kitab-kitab surga ( Why. 20: 4, 11- 15) dan memungkinkan kita untuk menyelidiki buktinya sebelum Dia akhirnya menjatuhkan api ke bumi. Artinya, kita akan memiliki waktu seribu tahun untuk menjawab banyak pertanyaan yang, untuk saat ini, masih belum terjawab.