Murka Anak Domba
Sangat menarik untuk dicatat bahwa mereka yang hilang tidak berteriak, "Apa ini?" atau "Siapa di balik ini?" Mereka tampaknya tahu apa yang terjadi. Mereka menyebut Yesus sebagai "Anak Domba," yang menunjukkan mereka tahu tentang cerita Kristus. Mereka juga tampaknya sadar bahwa "hari besar murka-Nya telah tiba," dan bahwa mereka terjebak dalam posisi putus asa: "Siapakah yang dapat bertahan?"
Sebelum akhir dunia, Injil dibawa ke setiap bangsa di bumi ( Mat. 24: 14), dan pekabaran tiga malaikat disampaikan ke seluruh bumi. Namun, akan ada orang-orang yang lengah-bukan karena kurangnya informasi tetapi karena penolakan mereka untuk percaya dan menurut. Ini akan menjadi alasan mengapa orang-orang seperti itu terhilang di hari-hari terakhir.
Yesus menunjuk pada cerita Air Bah untuk memperingatkan kita bahwa kedatangan-Nya yang kedua kali akan mengejutkan banyak orang. Seperti Kedatangan Kedua, Air Bah tidak mengejutkan dunia karena kurangnya informasi. Nuh berkhotbah selama 120 tahun kepada dunia yang menolak untuk percaya. Mereka diberi tahu apa yang akan terjadi. Mereka hanya tidak percaya.
Sementara itu, banyak orang meyakinkan diri mereka sendiri bahwa berlalunya waktu yang lama berarti bahwa nubuatan itu salah. Dengan menggunakan kisah Air Bah sebagai konteksnya, Petrus menulis "bahwa pada hari-hari zaman akhir akan tampil pengejek-pengejek dengan ejekan-ejekannya, yaitu orang-orang yang hidup menuruti hawa nafsunya. Kata mereka: 'Di manakah janji tentang kedatangan-Nya itu? Sebab sejak bapa-bapa leluhur kita meninggal, segala sesuatu tetap seperti semula, pada waktu dunia diciptakan'" ( 2 Ptr. 3: 3, 4). Setiap kali tahun-tahun berlalu, sentimen ini hanya akan tumbuh.