Proses Inspirasi
Banyak buku dan tulisan, bukan hanya Alkitab, telah sampai kepada kita selama berabad-abad. Namun, kita menganggap Alkitab sebagai Firman Allah. Apakah yang memisahkannya dari tulisan-tulisan lain?
Ada beberapa diskusi tentang terjemahan terbaik dari 2 Timotius 3: 16, tetapi sebagian besar terjemahan Alkitab menerjemahkan bagian ini dengan cara yang sama, menekankan bahwa seluruh Alkitab berasal dari Ilahi ( 2 Ptr. 1: 20, 21). Seorang komentator Alkitab menjelaskan bahwa "tampaknya lebih mungkin bahwa Paulus sedang merenungkan kitab suci secara keseluruhan di sini dan bahwa ia akan mengatakan bahwa keseluruhan kitab suci itu 'bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran,' daripada bahwa setiap bagian kitab suci bermanfaat dalam cara-cara ini"-G. W. Knight III, The Pastoral Epistles: A Commentary on the Greek Text (Grand Rapids, MI: Eerdmans, 1992), hlm. 445.
Namun, bagaimanakah seharusnya kita memahami proses inspirasi yang melahirkan Alkitab? Kita harus menyadari bahwa inspirasi nubuat adalah Roh Kudus yang membantu nabi-nabi yang benar untuk komunikasi pekabaran Ilahi yang dapat diandalkan. Bantuan itu diberikan tidak hanya dalam proses menerima pekabaran, melainkan juga dalam mengomunikasikan pekabaran tersebut dengan jelas kepada penerimanya.
Berbagai pekabaran Allah datang melalui penglihatan dan mimpi ( Bil. 12: 6; Yes. 6: 1, 8). Allah juga menggunakan saksi mata ( 1 Yoh. 1: 1-3), penelitian sejarah yang diilhami Roh ( Luk. 1: 1-3), dan kesan Ilahi pada pikiran ( 2 Ptr. 1: 21).
Terlepas dari cara yang digunakan oleh Roh Kudus, para nabi dan penulis Alkitab diberi pekabaran kebenaran yang objektif, bukan subjektif, untuk dibagikan. Artinya, berbagai pekabaran Allah tidak boleh diubah atau didistorsi dengan cara apa pun oleh utusan-utusan-Nya, bahkan jika mereka menggunakan kata-kata mereka sendiri untuk mengungkapkan berbagai pekabaran tersebut. Tugas mengomunikasikan pekabaran nubuat kepada pendengar aslinya dapat dilakukan secara lisan ( 2 Ptr: 1: 19-21), atau dalam bentuk tertulis ( Yoh. 20: 30, 31), atau bahkan melalui dramatisasi ( Yeh. 4: 1-8).