Kemanusiaan Para Nabi
Seperti yang kita lihat pekan lalu, Tuhan menggunakan nabi Elia untuk melakukan pekerjaan yang luar biasa di Israel, meskipun ada tantangan yang kuat. Apa yang telah dicapai Tuhan melaluinya sungguh luar biasa. Namun … apa?
Elia meraih keberhasilan yang menakjubkan di Gunung Karmel ( 1 Raj. 18); Allah telah bekerja dengan cara yang perkasa melaluinya, dan salah satu mukjizat paling mencengangkan yang digambarkan dalam sejarah Perjanjian Lama terjadi: pada bunyi perkataan Elia sendiri, api benar-benar turun dari langit ( 1Raj. 18: 38)! Anda akan mengira bahwa hamba Allah ini akan sangat bahagia setelah kejadian seperti itu.
"Cukuplah itu! Sekarang, ya TUHAN, ambillah nyawaku, sebab aku ini tidak lebih baik dari pada nenek moyangku" ( 1 Raj. 19: 4).
Ini terdengar seperti seorang pria yang menderita semacam depresi. Mengapa? Apa yang terjadi di Gunung Karmel jelas bukan tindakan yang mudah untuk diikuti; tetapi, tetap saja, ada sesuatu yang lain terjadi di sini. Mungkin kuncinya dapat ditemukan dalam kata-katanya, "Aku bekerja segiat-giatnya bagi TUHAN, Allah semesta alam, karena orang Israel meninggalkan perjanjian-Mu, meruntuhkan mezbah-mezbah-Mu dan membunuh nabi-nabi-Mu dengan pedang; hanya aku seorang dirilah yang masih hidup dan mereka ingin mencabut nyawaku" ( 1 Raj. 19: 10).
Ini terdengar seolah-olah ia meratapi apa yang ia yakini sebagai kegagalannya dalam pelayanan. Kemurtadan tetap ada, meskipun ia telah berusaha sebaik mungkin, seolah-olah ia sendirian dapat membendung arus tersebut. Apa pun yang pada akhirnya terjadi di sini, kita dapat melihat kemanusiaan dan kerapuhan hamba Allah ini. Dengan kata lain, Elia adalah seorang manusia yang "biasa sama seperti kita".