Guru-Guru Palsu Diidentifikasi
Perjanjian Baru berisi beberapa peringatan terhadap guru-guru palsu di dalam komunitas Kristen. Yesus Sendiri memperingatkan para murid tentang hal yang sama ( Mat. 7: 15–20). Para rasul juga menaruh perhatian pada hal itu ( Gal. 1: 6–9, 1 Tim. 6: 3–5, 2 Ptr. 2: 1–3).
Paulus membuka kedok pekerjaan guru-guru palsu. Pada saat yang sama, ia menunjukkan bahwa pelayanannya berpusat pada Kristus. Ia membandingkan jemaat di Korintus dengan seorang mempelai perempuan dan mengidentifikasi dirinya sebagai ayahnya, dengan tanggung jawab untuk mempersembahkannya kepada Kristus ( 2 Kor. 11: 2). Ia melakukannya karena ia mengasihi jemaat ( 2 Kor. 11: 11). Jadi, ia bahkan rela untuk tidak menjadi beban keuangan bagi jemaat, meskipun ia berhak untuk ditunjang oleh mereka ( 2 Kor. 11: 7–12).
Di sisi lain, "rasul-rasul yang paling terkemuka" (ini kemungkinan merujuk pada guru-guru palsu secara ironis) dibandingkan dengan ular yang menipu Hawa ( 2 Kor. 11: 3). Seperti Iblis di Taman Eden, guru-guru palsu di Korintus dicirikan oleh tipu daya dan kerusakan ( 2 Kor. 11: 3, 4). Kekhawatiran utama Paulus adalah bahwa mereka dapat menyesatkan jemaat Korintus dari pengabdian dan kesetiaan mereka yang tulus kepada Kristus.
Para penyusup itu memberitakan pekabaran yang berbeda dari yang diberitakan Paulus—Yesus yang lain dan injil yang lain ( 2 Kor. 11: 4). Ini menunjukkan bahwa tidak semua orang yang memberitakan Yesus adalah alat yang diutus Allah. Dalam hal itu, Yesus Sendiri berkata, "Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di surga" ( Mat. 7: 21). Dalam Galatia 1: 6–9, Paulus mengatakan bahwa siapa pun yang memberitakan injil yang berbeda akan mendatangkan kutuk atas dirinya sendiri, tetapi beberapa orang di Korintus menoleransi kesalahan semacam ini.
Paulus menelanjangi rasul-rasul palsu dengan mengatakan bahwa mereka adalah "pekerja-pekerja curang, yang menyamar sebagai rasul-rasul Kristus" ( 2 Kor. 11: 13). Mereka menyamar sebagai rasul-rasul Kristus, sama seperti "Iblis pun menyamar sebagai malaikat Terang" dan "hamba-hambanya Iblis] pun menyamar sebagai pelayan-pelayan kebenaran" ([2 Kor. 11: 14, 15</span>). Sungguh situasi yang tragis: orang-orang yang mengaku sebagai hamba Kristus bekerja sebagai agen-agen Iblis. Paulus menyimpulkan pemikirannya dengan mengatakan bahwa "kesudahan mereka akan setimpal dengan perbuatan mereka" (<span class="bible-ref-badge tag is-info is-light font-semibold my-1" data-bible-ref="2 Kor. 11: 15" data-sspm="2Cor1115" style="display: inline-flex; align-items: center; gap: 0.25rem; cursor: pointer;"><i class="bx bx-book-open"></i> 2 Kor. 11: 15</span>).