Pendalaman
Bacalah tulisan Ellen G. White, "Korintus", dalam buku Kisah Para Rasul (1999), hlm. 205–214.
"Dalam mengkhotbahkan Injil di Korintus, rasul itu mengikuti jalan yang lain dari yang ditandai oleh pekerjaannya di Atena. … Ia mengambil keputusan untuk menghindarkan perbantahan dan perbincangan yang rumit dan 'tidak mengetahui apa-apa' di antaraorang Korintus 'selain Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan'"—Ellen G. White, Kisah Para Rasul (1999), hlm. 206.
"Paulus memang meraih keberhasilan, tetapi ia "meragukan kebijaksanaan untuk membangun sebuah jemaat dari bahan yang ia temukan di sana. Ia menganggap Korintus sebagai ladang pekerjaan yang sangat meragukan, dan memutuskan untuk meninggalkannya.
"Ketika ia sedang mempertimbangkan untuk meninggalkan kota itu menuju ladang yang lebih menjanjikan, … Tuhan menampakkan diri kepadanya dalam sebuah penglihatan pada malam hari, dan berkata, 'Jangan takut, teruslah memberitakan firman, sebab banyak umat-Ku di kota ini.' Paulus memahami ini sebagai perintah untuk tetap tinggal di Korintus, dan jaminan bahwa Tuhan akan memberikan pertumbuhan pada benih yang ditaburkan. … Sebuah jemaat besar berdiri di bawah panji Yesus Kristus"—Ellen G. White, Sketches from the Life of Paul, hlm. 106, 107.
"Tercatat bahwa Paulus bekerja selama satu tahun enam bulan di Korintus. Namun, usahanya tidak terbatas secara eksklusif di kota itu. … Ia menjadikan Korintus sebagai markasnya. … Beberapa jemaat pun didirikan. … Ketidakhadiran Paulus dari jemaat-jemaat yang ia layani sebagian digantikan oleh surat-surat yang berbobot dan kuat, yang pada umumnya diterima sebagai firman Tuhan. … Surat-surat ini dibacakan di jemaat-jemaat"—Ellen G. White, Sketches from the Life of Paul, hlm. 109.
Pertanyaan-Pertanyaan untuk Diskusi: