Allah dalam Penciptaan
Anda mungkin sudah hafal kata-kata pertama dalam Alkitab: "Pada mulanya Allah." Dalam bahasa Ibrani, kata untuk Allah di sini adalah Elohim. Meskipun kata ini bisa digunakan untuk menyebut "allah-allah" palsu, ketika merujuk kepada Allah yang sejati, kata ini menggambarkan Pencipta yang mahakuasa dan berkuasa atas seluruh ciptaan-Allah yang transenden, yang melampaui pemahaman kita, tetapi yang memegang kendali atas segala sesuatu. Dia begitu berkuasa sehingga ketika Dia berfirman, sesuatu langsung tercipta hanya dari suara-Nya.
Namun dalam pasal berikutnya, Kejadian 2, muncul nama Allah yang berbeda: Yahwe. Nama ini sering muncul dalam bentuk gabungan dengan Elohim: Yahweh Elohim. Ini tetap menunjuk kepada Allah yang sama-Yang Mahakuasa dan Pencipta tetapi Yahwe adalah nama yang lebih pribadi, sering digunakan untuk menekankan bahwa Allah adalah Allah perjanjian, yang ingin menjalin hubungan kasih yang erat dengan umat ciptaan-Nya.
Dalam Kejadian 2: 7, kita dapat membayangkan Allah berlutut untuk membentuk manusia pertama dari tanah dengan tangan-Nya sendiri. "Ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup." Inilah Allah yang mendekat-begitu dekat hingga Ia menghembuskan nafas kehidupan ke dalam lubang hidung Adam. Nama ini, Yahwe, menyajikan gambaran Allah yang lebih intim, namun Musa menggunakan kedua nama tersebut dalam dua pasal pertama Alkitab untuk menggambarkan dua sifat Allah ini kepada kita.
Betapa menakjubkannya! Kita melihat kemahatinggian (transendensi) Allah sebagai Elohim, dan kedekatan-Nya (imanensi) sebagai Yahwe. Alangkah baiknya bagi kita untuk merenungkan kedua aspek karakter Allah ini: bahwa Ia berkuasa penuh atas segala sesuatu, dan sekaligus dekat dengan kita. Seperti yang dikatakan Paulus kepada orang-orang Athena di Bukit Mars: "Ia tidak jauh dari kita masing-masing. Sebab di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada" ( Kisah Para Rasul 17:27-28).
Penting bagi kita untuk terus mencari gambaran Allah yang jelas dan seimbang, berdasarkan pada apa yang Alkitab ajarkan tentang karakter-Nya, agar kita dapat bertumbuh dalam hubungan dengan-Nya. Inilah sebabnya mengapa penting untuk membaca seluruh bagian Alkitab, bukan hanya berfokus pada satu bagian saja. Sungguh, semakin kita mengenal karakter Allah, semakin kita belajar mengasihi-Nya.