Allah Adalah Kudus
Kekudusan bukanlah kata yang sering digunakan orang dalam percakapan sehari-hari, mungkin karena sangat sedikit hal di sekitar kita yang benar-benar kudus. Hari Sabat adalah hari yang kudus dalam hal waktu, dan tentu saja, Allah adalah kudus. Namun, dalam kehidupan sehari-hari kita, kekudusan tampaknya jarang terlihat. Jika Anda mempelajari sifat-sifat yang paling sering dihubungkan dengan karakter Allah, Anda akan menemukan bahwa kekudusan adalah inti dari siapa Allah itu. Tetapi, apa sebenarnya artinya?
Ketika Alkitab menggambarkan Allah sebagai puncak kekudusan, itu berarti bahwa Dia sepenuhnya bebas dari, dan sepenuhnya terpisah dari, kejahatan dan dosa. Allah adalah 100 persen baik dari awal hingga akhir. Dalam pengertian ini, kekudusan Allah adalah dasar dari semua sifat-Nya yang lain.
Sebagai contoh, kasih Allah adalah kasih yang murni dan kudus-kasih yang sepenuhnya bebas dari keegoisan dan motif yang mementingkan diri sendiri. Kemahatahuan-Nya adalah kemahatahuan yang kudus, artinya tidak ada niat jahat di dalamnya. Apakah Anda akan memercayai Allah yang Mahatahu jika Ia tidak kudus? Tentu tidak. Sebaliknya, kita akan, dan memang seharusnya, takut kepada-Nya.
Kemahakuasaan Allah (yang memiliki segala kuasa) adalah kemahakuasaan yang kudus. Bayangkan jika Allah mahakuasa tetapi tidak kudus-Dia bisa saja menjadi tiran yang jahat dan menakutkan. Hanya kekudusan Allah-lah yang memungkinkan kita untuk sungguh-sungguh mengasihi-Nya, karena Dia benar-benar baik dari awal hingga akhir. Inilah mengapa kekudusan mungkin merupakan sifat Allah yang paling penting untuk dipahami. Namun bisa jadi, kekudusan juga merupakan salah satu sifat-Nya yang paling sering disalahpahami.
Pikirkan tokoh-tokoh Alkitab seperti Musa, Yesaya, Yehezkiel, Daniel, dan Yohanes yang datang ke hadirat Allah. Apa respons pertama mereka? Mereka melepaskan kasut, menutupi wajah, atau jatuh tersungkur seolah-olah mati. Sebagai manusia berdosa, kita begitu tidak kudus sehingga tidak sanggup berdiri di hadapan Allah. Alkitab mengatakan bahwa siapa pun yang melihat wajah Allah tidak akan hidup. Demikian juga, ketika Ellen G. White menerima penglihatan, ia sering berseru, “Kudus… kudus… kudus", karena itu adalah satu-satunya kata yang paling menggambarkan apa yang dilihatnya. Dan tentu saja, keempat makhluk hidup di surga tidak henti-hentinya siang dan malam berseru: "Kudus, kudus, kuduslah Tuhan Allah, Yang Mahakuasa, yang sudah ada dan yang ada dan yang akan datang!" ( Wahyu 4:8).