Panutan
Kita semua pada suatu waktu, pernah bertemu seseorang yang kita kagumi dan ingin teladani. Bagi anak-anak, memiliki panutan yang baik sangatlah penting. Idealnya, panutan tersebut adalah ayah dan ibu mereka. Seiring mereka bertumbuh, mereka akan menemukan panutan lain, mungkin yang berkaitan dengan karier yang mereka pilih atau bahkan dari biografi yang mereka baca. Mereka juga dapat belajar dari bagaimana tokoh-tokoh Alkitab menghadapi tantangan dan membandingkannya dengan pengalaman hidup mereka sendiri.
Kita tidak boleh melewatkan kasih Paulus terhadap mereka yang tidak sejalan dengannya dia meratapi mereka! Perhatikan juga bahwa dia tidak menyebut mereka sebagai musuhnya, melainkan "seteru salib Kristus" ( Flp. 3: 18). Paulus menyadari bahwa ada masalah yang jauh lebih besar yang dipertaruhkan, yaitu bagaimana salib menghancurkan tembok pemisah dan menempatkan kita semua pada posisi yang sama, sebagai orang berdosa yang membutuhkan seorang Juruselamat (lihat Ef. 2: 11-14).
Juga, jangan abaikan bagaimana Paulus mendorong jemaat Filipi untuk berfokus pada teladan yang baik, bukan pada yang buruk; mengamati dengan saksama mereka yang cara hidupnya serupa dengan dirinya. Menariknya, Paulus menggunakan bahasa yang serupa ketika mengamarkan jemaat di Roma: "Tetapi aku menasihatkan kamu, saudara-saudara, supaya kamu waspada terhadap mereka, yang bertentangan dengan pengajaran yang telah kamu terima, menimbulkan perpecahan dan godaan. Sebab itu hindarilah mereka" ( Rm. 16: 17). Para penyesat di Roma digambarkan sebagai mereka yang "tidak melayani Kristus, Tuhan kita, tetapi melayani perut mereka sendiri ( Rm. 16: 18).