Kita Mempraktikkan Apa yang Allah Tanamkan dalam Diri Kita
Setelah menunjukkan Yesus sebagai teladan sempurna dalam kerendahan hati dan ketaatan kepada kehendak Allah, Paulus kini beralih kepada jemaat Filipi itu sendiri. Ia memuji ketaatan mereka kepada Tuhan setelah mereka menerima pekabaran Injil (lihat Kis. 16: 13-15, 32, 33) dan mendorong mereka untuk terus hidup dalam ketaatan tersebut.
Setelah menunjukkan bahwa kehidupan Kristus dan Salib adalah jalan keselamatan, sekarang Paulus lebih menyoroti bagaimana semua ini diterapkan dalam kehidupan nyata.
Dalam dua ayat ini, Paulus tidak menyampaikan Injil yang berbeda dari yang ia jelaskan dalam Roma dan surat-suratnya yang lain. Kita dapat yakin bahwa pekabarannya di sini sejalan dengan Injil tentang pembenaran oleh iman, yang juga ia beritakan di Filipi dan tempat-tempat lainnya. Namun, penting juga untuk mempertimbangkan semua yang Alkitab katakan tentang suatu topik, terutama mengenai keselamatan, yang sering disalahpahami.
Tanpa keraguan, keselamatan adalah karya Allah, dan kita sama sekali tidak memiliki andil dalam hal itu. Bahkan iman itu sendiri adalah karunia yang diteguhkan melalui karya Roh Kudus. Perbuatan kita sendiri tidak dapat menyelamatkan kita; namun, melalui kelahiran baru, Allah menciptakan kita kembali secara rohani, memampukan kita untuk melakukan perbuatan baik. Roh Allah bekerja di dalam kita, memperkuat kehendak kita untuk memilih yang benar, melawan godaan, dan mengambil keputusan yang benar.
Jadi, kita mengerjakan apa yang Allah kerjakan di dalam kita, "dengan takut dan gentar." Apakah ini berarti kita harus takut akan penghakiman Allah atas upaya kita yang sering kali lemah dalam menaati-Nya? Tentu tidak. Frasa ini merujuk pada kesadaran akan hadirat Allah (lihat Mzm. 2: 11) dan kebutuhan kita untuk menaati-Nya.