Berdiri Teguh dalam Kesatuan
Doa terakhir Yesus untuk murid-murid-Nya berpusat pada satu tema utama: kesatuan. Yesus memandang melampaui salib kepada reuni kembali dengan Bapa dan dengan kita: "Ya Bapa, Aku mau supaya, di manapun Aku berada, mereka juga berada bersama-sama dengan Aku, mereka yang telah Engkau berikan kepada-Ku" ( Yoh. 17: 24). Yesus berdoa agar Bapa menjaga anak-anak-Nya supaya "mereka menjadi satu sama seperti Kita" ( Yoh. 17: 11). Ia juga menekankan akibat serius dari perpecahan-perpecahan yang menjadi alasan bagi banyak orang untuk tidak percaya. Dalam doa singkat ini, Yesus dua kali menegaskan bahwa kesatuan kita dengan Dia dan Bapa bertujuan "supaya dunia percaya" dan "agar dunia tahu bahwa Engkau yang telah mengutus Aku” ( Yoh. 17: 21, 23).
Kata Yunani dalam Filipi 1: 27 yang diterjemahkan sebagai "hendaklah hidupmu berpadanan" adalah politeuomai, yang berarti "hidup sebagai warga negara" bukan dari kerajaan duniawi manapun, melainkan sebagai warga kerajaan surgawi. Khotbah di Bukit menggambarkan dengan indah apa artinya menjadi anak-anak Bapa di surga dan anggota kerajaan-Nya: miskin di hadapan Allah, lemah lembut, lapar dan haus akan kebenaran, penuh belas kasihan, suci hati, pembawa damai, siap memberikan pipi yang lain, mengasihi musuh, memberkati mereka yang mengutuki kita, berbuat baik kepada mereka yang membenci kita. Singkatnya, "berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu" ( Mikha 6: 8).
Ellen G. White berbicara tentang mereka yang "lebih mencintai dunia dan keuntungannya daripada mencintai Allah atau kebenaran"-Testimonies for the Church, vol. 5, hlm. 277.
Sering kali, perpecahan di dalam gereja pada akhirnya berakar pada kesombongan. "Saat kesombongan dan ambisi duniawi dipelihara, roh Kristus telah meninggalkan mereka, dan persaingan, perselisihan, serta pertikaian masuk untuk mengalihkan perhatian dan melemahkan gereja"-Testimonies for the Church, vol. 5, hlm. 240, 241.