Kiasan atau Harfiah?
Salah satu masalah utama yang para pelajar nubuatan perlu hadapi adalah bagaimana menentukan apakah bahasa Alkitab harus dipahami secara harfiah atau kiasan. Bagaimana seseorang menentukan jika penulisnya sedang menggunakan bahasa simbolik, dan bagaimana seseorang mengetahui apa yang diwakili oleh simbol tersebut? Cara penting untuk melakukannya adalah dengan melihat bagaimana kiasan, simbol itu, digunakan di seluruh Alkitab, bukan bagaimana simbol itu digunakan di zaman sekarang. Misalnya, ada yang melihat simbol beruang dalam Daniel 7 menunjuk ke Rusia, karena gambaran itu sering digunakan saat ini sebagai simbol Rusia. Ini bukan cara yang tepat atau aman untuk menafsirkan simbolisme nubuatan.
Bacalah ayat-ayat berikut, yang mengizinkan Alkitab menjadi penafsirnya sendiri (untuk mendefinisikan istilahnya sendiri). Apakah simbol nubuatan yang umum untuk ayat-ayat dalam setiap kasus, dan apakah yang Alkitab katakan sebagai artinya?
Dengan mengikuti aturan sederhana bahwa Alkitab harus diizinkan untuk mendefinisikan istilahnya sendiri, sebagian besar misteri di balik simbolisme nubuatan akan terpecahkan. Misalnya, kita melihat bahwa tanduk dapat melambangkan kekuatan politik atau bangsa. Pedang bisa melambangkan Firman Tuhan. Dan, ya, seorang wanita bisa melambangkan gereja. Di sini kita dapat dengan jelas melihat Alkitab menjelaskan dirinya sendiri.
Namun, apa yang masih harus dijawab adalah mengapa Tuhan berbicara dalam simbol, gantinya berterus terang? Mengapa, misalnya, Petrus secara samar menyebut Kota Roma sebagai Babel, dalam 1 Petrus 5: 13?
Mungkin ada banyak alasan mengapa Tuhan memilih untuk berkomunikasi secara simbolis dalam nubuatan. Dalam kasus gereja Perjanjian Baru, misalnya, jika kitab Wahyu dengan jelas menyebut Roma sebagai pelaku dari begitu banyak kejahatan, penganiayaan yang sudah buruk terhadap gereja mungkin akan menjadi lebih buruk. Apa pun alasannya, kita dapat percaya bahwa Tuhan ingin kita memahami apa arti simbol-simbol itu.