Nyanyian Kekasihku
Dengan cara yang menakjubkan, Allah telah menyatakan kasih dan kebenaran-Nya di tengah pertentangan kosmis. Namun, ada yang mungkin bertanya, haruskah Allah melakukan lebih dari yang Dia telah lakukan untuk mencegah dan/atau menghilangkan kejahatan? Kita telah melihat kerangka pertentangan kosmis yang menunjukkan bahwa Allah telah bertindak untuk menghormati kebebasan memilih yang diperlukan untuk berkembangnya hubungan kasih antara Dia dan umat manusia secara maksimal. Lebih jauh lagi, Dia rupanya bertindak sesuai dengan batasan moral, atau aturan main, dalam konteks perselisihan kosmis mengenai karakter-Nya, yang hanya dapat diselesaikan dengan menunjukkan kasih-Nya.
Dalam ayat ini, Yesaya menyanyikan nyanyian tentang kekasihnya, sebuah kebun anggur. Pemilik kebun anggur adalah Allah sendiri, dan kebun anggur melambangkan umat Allah (lihat, misalnya, Yes. 1: 8; Yer. 2: 21). Namun implikasinya di sini dapat juga diperluas kepada pekerjaan Allah yang lebih luas di dunia ini. Menurut ayat-ayat ini, pemilik kebun anggur (Allah) melakukan segala sesuatu yang dapat dilakukan untuk menjamin berkembangnya kebun anggur-Nya. Kebun anggur seharusnya menghasilkan buah anggur yang baik, namun yang dihasilkan hanya "anggur asam", yang dalam terjemahan lain disebut sebagai "tidak berharga". Memang benar, kata Ibrani di sini secara harfiah dapat diterjemahkan sebagai buah busuk. Kebun anggur Allah menghasilkan buah anggur yang busuk.
Yesaya 5: 3 beralih ke Allah sendiri yang berbicara, mengajak manusia untuk "mengadili" antara Dia dan kebun anggur-Nya. Dan, dalam Yesaya 5: 4, Allah sendiri mengajukan pertanyaan yang sangat penting: "Apakah lagi yang harus diperbuat untuk kebun anggur-Ku yang belum Kuperbuat kepada-Nya? Aku menanti supaya dihasilkannya buah anggur yang baik, mengapa yang dihasilkannya hanya buah anggur yang asam?" Apakah lagi yang dapat Dia lakukan? Betapa menakjubkannya Dia bahkan meminta orang lain untuk mengadili apa yang telah Dia lakukan.