Pendalaman
Bacalah tulisan Ellen G. White, "Golgota", dalam buku Kerinduan Segala Zaman (1999), jld. 2, hlm. 391–409.
"Kepada pikiran orang-orang banyak yang hidup pada waktu sekarang, salib di Kalvari dikelilingi oleh pikiran-pikiran yang suci. Pergaulan yang disucikan dihubungkan dengan pemandangan penyaliban. Pada zaman Paulus salib itu dipandang dengan perasaan menjijikkan dan ketakutan. Untuk menjunjung tinggi Juruselamat manusia, seorang yang telah menemui kematian di kayu salib, akan dengan sendirinya menimbulkan tertawaan dan pertentangan.
"Paulus mengetahui bahwa pekabarannya akan dianggap oleh orang-orang Yahudi dan orang-orang Yunani di Korintus. … Di antara pendengar-pendengarnya yang bukan Yahudi ada banyak yang akan menjadi marah oleh pekabaran yang hampir akan dimasyhurkannya. Dalam penilaian orang-orang Yunani perkataan akan dianggap bodoh semata-mata. Ia akan dianggap sebagai lemah pikirannya untuk mencoba menunjukkan bagaimana salib mempunyai sesuatu hubungan dengan yang ditinggikan bangsa itu atau demi keselamatan manusia.
"Tetapi kepada Paulus salib itu adalah tujuan utama. Sejak ia ditawan dalam pekerjaannya dalam menganiaya pengikut-pengikut orang Nazaret yang disalibkan ia tidak pernah berhenti untuk memuliakan salib. Pada waktu itu telah diberikan kepadanya suatu kenyataan tentang kasih Allah yang tak terbatas, sebagaimana dinyatakan dalam kematian Kristus; dan suatu perubahan hati mengherankan telah dikerjakan dalam hidupnya, membawa semua rencana dan maksudnya selaras dengan surga. Sejak itu ia adalah seorang yang baru dalam Kristus. Ia mengetahui oleh pengalaman pribadi bahwa bila orang berdosa sekali memandang kasih Allah, sebagaimana yang kelihatan dalam pengorbanan Anak-Nya, dan menyerahkan diri kepada pengaruh Ilahi, suatu perubahan hati terjadi, dan mulai saat itu Kristus menjadi segala perkara dan dalam segala perkara"—Ellen G. White, Kisah Para Rasul (1999), hlm. 207.
Pertanyaan-Pertanyaan untuk Diskusi: