Anak yang Tersesat
Banyak orang yang mengenal secara langsung rasa sakit dan penderitaan karena memiliki anak yang-meskipun dibesarkan dalam rumah tangga yang kuat secara rohani memilih untuk menjauh dari hubungan dengan Tuhan.
Lebih dari itu, kita membaca bahwa Rahel, nenek Efraim, secara metaforis menangis karena Efraim telah menjauh dari hubungan dengan Allah ( Yeremia 31:15). Allah menjawab kesedihannya dengan kata-kata ini dalam Yeremia 31: 16-17: "Cegahlah suaramu dari menangis, dan matamu dari mencucurkan air mata, sebab untuk jerih payahmu ada ganjaran, demikianlah firman TUHAN; mereka akan kembali dari negeri musuh. Masih ada harapan untuk hari depanmu, demikianlah firman TUHAN: anak-anak akan kembali ke daerah mereka."
Melalui kisah-kisah ini, kita belajar bahwa selalu ada harapan (seperti untuk Efraim dan Gomer), karena Allah tidak pernah menyerah. Meskipun Allah menegur umat-Nya yang tersesat berulang kali, belas kasihan-Nya tidak pernah gagal, dan pesan-Nya dalam pasal ini terus berlanjut (lihat Yeremia 31:20).
Kita mungkin merasa sangat terluka, frustrasi, dan putus asa, bahkan mungkin berbicara negatif tentang orang-orang terdekat kita yang telah menjauh dari hubungan dengan Allah. Namun, Allah mengingatkan kita bahwa Ia tidak melupakan anak yang tersesat-sama sekali tidak! Pikiran Allah terhadap orang seperti itu tidak hanya sesaat, melainkan penuh kasih dan ketulusan. Bahkan, Allah berkata bahwa hati-Nya merindukan mereka. Ia sangat menginginkan mereka untuk kembali kepada-Nya, dan belas kasihan-Nya sangat besar.