Pendalaman
Alkitab sering menggunakan metafora pertanian untuk menggambarkan kondisi rohani kita. Hosea 10: 12 adalah salah satu contohnya yang merangkum apa yang telah kita bahas pekan ini:
"Menaburlah bagimu sesuai dengan keadilan, menuailah menurut kasih setia! Bukalah bagimu tanah baru, sebab sudah waktunya untuk mencari Tuhan, Sampai Ia datang dan menghujani kamu dengan keadilan."
Kita menabur, menuai, menggemburkan tanah yang keras, dan mencari Allah agar kita bisa mendekat kepada-Nya. Tanah hati kita harus disiapkan dan siap untuk menerima hujan (Roh Kudus). Allah dapat memberi kita keinginan untuk mempersiapkan tanah, tetapi pada akhirnya, hubungan dengan Allah adalah sebuah kemitraan (lihat Filipi 2:12, 13). Kita harus menoleh kepada-Nya, meraih-Nya, dan melekat pada-Nya. Lalu Dia akan bekerja di dalam kita untuk melakukan sisanya.
Salah satu contoh yang sangat baik tentang apa artinya melekat kepada Allah dapat ditemukan dalam ayat ini: "Matamu sendiri telah melihat apa yang diperbuat TUHAN mengenai Baal-Peor, sebab TUHAN, Allahmu, telah memunahkan dari tengah-tengahmu semua orang yang mengikuti Baal-Peor, sedangkan kamu sekalian yang berpaut pada TUHAN, Allahmu, masih hidup pada hari ini" ( Ulangan 4:3-4).
Pertanyaan-Pertanyaan untuk Diskusi:
Ringkasan: Mengakui dosa-dosa kita sebagai tanggapan terhadap dorongan Roh Kudus dan menyerahkan diri melalui pertobatan adalah bagian penting dalam memiliki hubungan yang hidup dengan Allah. Mengetahui bahwa kita diampuni sepenuhnya dan diselimuti oleh jubah kebenaran Yesus adalah pengalaman yang paling mengubah hidup bagi seorang manusia. Kita bukan hanya merasa beban dosa diangkat, tetapi juga merasakan kasih Allah menyelimuti kita saat kita ditarik lebih dekat kepada-Nya. Hal ini mengikat kita kepada Allah, memperkuat kita secara rohani, dan mendorong kita untuk mengasihi-Nya dengan segenap keberadaan kita.