Hal yang Benar-Benar Penting
Seperti yang ditunjukkan dalam pelajaran kemarin, hal-hal yang sebelumnya membuat Paulus bangga justru menjadi penghalang bagi iman karena membuatnya buta terhadap kebutuhannya akan Kristus. Paulus menggunakan bahasa perdagangan, untung dan rugi, untuk menggambarkan catatan kehidupan rohaninya sebelum beriman. Meskipun kita tidak suka terlalu banyak memikirkannya, setiap manusia memiliki "catatan kehidupan rohani." Sebelumnya, catatan kehidupan rohani Paulus diukur berdasarkan nilai-nilai Yahudi pada zaman itu, bukan berdasarkan nilai-nilai Alkitab seperti yang diajarkan oleh Yesus.
Setelah pertobatannya, catatan kehidupan rohani Paulus tampak sangat berbeda karena tolok ukur nilainya berubah secara drastis, dari "hal yang berharga" dalam Yudaisme menjadi "hal yang berharga di surga."
"Dia yang telah turun dari surga dapat berbicara tentang surga dan dengan tepat menyampaikan hal-hal yang berharga di surga, yang la telah tandai dengan gambar dan nama-Nya. Dia mengetahui bahaya yang mengancam mereka yang hendak diangkat-Nya dari kehinaan dan ditinggikan hingga berada di sisi-Nya, di atas takhta-Nya. Dia menunjukkan bahaya dari melimpahkan rasa sayang kepada hal-hal yang tidak berguna dan berbahaya. Dia berusaha mengalihkan pikiran kita dari hal-hal duniawi kepada hal-hal surgawi, agar kita tidak membuang-buang waktu, bakat, dan kesempatan pada hal-hal yang sama sekali sia-sia" Ellen G. White, dalam The Advent Review dan Sabbath Herald, July 1, 1890.
Dalam dunia Yudaisme abad pertama, Paulus adalah seorang bintang yang sedang naik daun dengan cepat, sampai matanya menjadi buta karena melihat Yesus yang dimuliakan dalam perjalanan menuju Damsyik ( Kisah Para Rasul 9), penglihatan mata rohaninya disembuhkan, dan ia pun melihat dengan jelas.
Apa yang lebih berharga daripada kehidupan kekal di surga dan di dunia yang baru? Namun, nilai-nilai duniawi membutakan banyak orang terhadap kenyataan ini. Ada pertentangan mendasar di antara hal-hal dihargai di dunia ini (lihat Mat. 13: 22; Luk. 4: 5, 6; 1 Yoh. 2: 16) dengan nilai-nilai surga-yaitu keserupaan dengan Kristus dan jiwa-jiwa yang diselamatkan.