Allah yang Cemburu?
Allah dalam Kitab Suci adalah "Allah Penyayang." Dalam bahasa Ibrani, Allah disebut el rahum ( Ul. 4: 31). Istilah "el" berarti "Allah," dan rahum adalah bentuk lain dari kata dasar kasih sayang (raham). Namun, Allah tidak hanya disebut Allah Penyayang tetapi juga Allah yang cemburu, el qana'. Seperti yang dinyatakan dalam Ulangan 4: 24, "TUHAN, Allahmu, adalah api yang menghanguskan, Allah yang cemburu Ul. 4: 24; Ul. 6: 15; Yos. 24: 19; Nah. 1: 2" data-sspm="Deut424,Deut615,Josh2419,Nah12" style="display: inline-flex; align-items: center; gap: 0.25rem; cursor: pointer;"> el qana'.
"Kecemburuan" Allah sering disalahpahami. Jika.Anda menyebut seseorang sebagai suami atau istri yang pencemburu, maka kemungkinan besar maksud Anda bukanlah suatu sanjungan. Dalam banyak bahasa, istilah cemburu seringkali memiliki konotasi negatif; Namun, di dalam Kitab Suci, kecemburuan Ilahi tidak memiliki konotasi negatif. Itu adalah hasrat yang benar dari seorang suami yang penuh kasih untuk memiliki hubungan khusus dengan istrinya.
Meskipun ada jenis kecemburuan yang bertentangan dengan kasih ( 1 Kor. 13:4), menurut 2 Korintus 11: 2 ada "kecemburuan" yang baik dan benar. Paulus menyebutnya sebagai "cemburu Ilahi" ( 2 Kor. 11: 2). Kecemburuan Allah adalah satu-satunya dan selalu merupakan jenis yang benar dan mungkin lebih baik jika dikatakan sebagai kasih Allah yang penuh hasrat terhadap umat-Nya.
Hasrat Allah (qana') terhadap umat-Nya berasal dari kasih-Nya yang mendalam kepada mereka. Allah menginginkan hubungan eksklusif dengan umatNya; Dia sendirilah yang akan menjadi Allah mereka. Namun, Allah sering kali digambarkan sebagai kekasih yang dicemooh, yang kasihnya bertepuk sebelah tangan (lihat Hosea 1- 3; Yer. 2: 2; Yer. 3: 1- 12). Jadi, "kecemburuan" atau "hasrat" Allah tidak pernah terjadi tanpa alasan, namun selalu tanggap terhadap ketidaksetiaan dan orang-orang jahat. Kecemburuan Allah (atau "kasih yang penuh hasrat") tidak memiliki konotasi negatif seperti kecemburuan manusia. Hal ini tidak pernah menimbulkan rasa iri tetapi selalu merupakan hasrat yang benar untuk menjalin hubungan khusus dengan umat-Nya dan demi kebaikan mereka.