Engkau telah Menerima dengan Cuma-Cuma; Berikanlah Pula dengan Cuma-Cuma.
Sama seperti seorang hamba yang tidak dapat membayar utangnya kepada tuannya, demikian pula kita tidak akan pernah dapat membayar utang kepada Allah. Kita tidak akan pernah bisa mendapatkan atau pantas mendapatkan kasih Allah. "Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa" ( Rm. 5: 8). Sungguh, kasih yang luar biasa! Sebagaimana dinyatakan dalam 1. Yohanes 3: 1, "Lihatlah, betapa besamya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah!"
Namun, yang bisa dan harus kita lakukan adalah memantulkan kasih Allah kepada orang lain semaksimal mungkin. Jika kita telah menerima kasih sayang dan pengampunan yang begitu besar, sebesar itu pula kita harusnya melimpahkan kasih sayang dan pengampunan kepada orang lain. Ingatlah bahwa seorang hamba kehilangan kasih sayang dan pengampunan dari tuannya karena ia gagal melimpahkannya kepada rekannya sesama hamba. Jika kita benar-benar mengasihi Allah, kita tidak akan gagal untuk memantulkan kasih-Nya kepada orang lain.
Persis setelah Yohanes 15: 12, Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, "Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu" ( Yoh. 15: 14). Dan apakah yang Yesus perintahkan kepada mereka? Antara lain, Yesus memerintahkan mereka (dan kita) untuk mengasihi sesama seperti Dia mengasihi mereka. Di sini dan di mana pun, Allah memerintahkan kita untuk mengasihi Allah dan sesama.
Singkatnya, kita harus menyadari bahwa kita telah diampuni atas utang kita yang tidak terhingga, utang yang tidak akan pernah bisa kita lunasi, utang yang hanya dibayar di kayu salib bagi kita. Oleh karena itu hendaknya kita mengasihi dan memuji Allah serta hidup dengan kasih dan rahmat terhadap sesama. Seperti yang diajarkan Lukas 7: 47, orang yang banyak diampuni, banyak mengasihi, tetapi "orang yang sedikit diampuni, sedikit pula ia berbuat kasih." Dan apakah ada di antara kita yang tidak menyadari betapa dia telah diampuni?
Jikalau mengasihi Allah berarti kita mengasihi orang lain, maka kita harus segera menyebarkan pekabaran tentang kasih Allah, baik melalui perkataan maupun perbuatan. Kita harus membantu orang-orang dalam kehidupan sehari-hari mereka di sini dan saat ini juga, dan kita juga berusaha menjadi saluran kasih Allah dan mengarahkan orang-orang kepada Dia yang menawarkan kepada mereka janji kehidupan kekal di langit yang baru dan bumi yang baru- sebuah ciptaan yang sepenuhnya baru yang berbeda dari dunia ini, dirusak oleh dosa dan kematian yang merupakan akibat buruk dari menolak kasih Allah.